Mari Pesta Pora!!!


Kunjungi juga Poetry Pinilih
Terima kasih sudah mau berkunjung.. =D

Whoaahh..

Showing posts with label taman kanak2. Show all posts
Showing posts with label taman kanak2. Show all posts

Friday, September 24, 2010

Mau Masuk SD!!

Dulu aku suka mendengar cerita, setiap malam aku meminta papa untuk membacakan buku untukku. Kaena tidak ada buku cerita, papa selalu membacakan terjemahan Al-Quran. Lama-lama aku bosan, akhirnya papa berlangganan majalah Bobo untukku. Karena aku belum lancar membaca. Akupun tetap meminta papa untuk membacakannya. Lalu aku menjadi sering belajar membaca memakai majalah tersebut bersama papa. Papa mengajariku untuk mengejanya dalam hati saja. Karena masih takut salah, aku suka membacanya keras-keras. Jadi, ada yang mengoreksiku bila aku salah membaca. Aku lancar membaca berkat majalah Bobo, makasih Bobo. He…
Hobiku untuk selalu membaca lantang, didengar kakak dan adiknya mama papa. Mereka menyarankan untuk aku masuk SD saja, kan sudah bisa baca. Sebenarnya umurku belum mencukupi. Masih lima tahun. Tetapi, aku mau masuk SD!! Dasar anak yang tidak sabaran.
Mama, papa, dan aku mengelilingi daerah sekitarku dengan mobil. (Bagi yang tau) Pekayon, Jati Asih, dan Villa Nusa Indah. Awalnya tidak ada yang mau nerima, katanya aku masih terlalu muda. Sampai akhirnya SD Negeri Jati Wangi II mau menerimaku dengan syarat. Aku harus mendapat ranking di kelas. Kalau tidak, aku harus mengulang. Aku senang-senang saja. Anak TK mah mana ada pikiran mesti gini gitu, ya ga?
Alhamdulillah, aku mendapat rangking sepuluh besar di SD itu. Dan aku bisa ketemu dengan kalian-kalian semua!!! Ha…

Little Love Thing

Setelah kami lomba gerak jalan, kami ada seminar (kecil-kecil ikut seminar?! Isn't that cool?!) tentang kesehatan gigi gitu. Aku tidak terlalu ingat apa isinya. Di sesi terakhir ada iklan (sebut merek ga papa ya?) Enzim. Teman-temanku yang lain berjalan ke depan untuk membelinya. Aku meminta mama untuk ikut membelinya, tapi tiadak diberi uang. Entah mengapa aku merengek dan hampir menangis. Akhirnya, mama menyerah dan memberiku uang untuk membelinya. Aku ikut berjalan ke arah depan.
Selesai itu, kami pulang. Kebetulan waktu itu papa bawa mobil, aku lupa apa namanya. Mobilnya cukup besar seperti kijang dan berwarna putih. Aku dan keluargaku cuma bertiga waktu itu (adikku belum lahir). Dua orang temanku dan ibu-ibunya nebeng naik mobilku. Kedua temanku itu laki-laki. Aku lupa siapa mereka. Tapi aku ingat bagaimana bentuk mereka. Sebut saja A, ia anak yang gendut, tembem, dan berkulit putih. Sedangkan yang satu lagi, keriting, kurus, dan berkulit agak gelap. Kami bertiga duduk di belakang. Aku mendengar ibunya bercerita bahwa anaknya, si A, sering cerita tentang aku. Anaknya suka sekali denganku. Lalu tiba-tiba anaknya ikut nimbrung dan mengiyakan kata-kata ibunya dengan semangat. Aneh memang. Aku hanya tersipu malu dan terdiam. Tanpa malu si B juga ikut semangat bilang kalau ia juga menyukaiku. Mereka cek-cok mulut, lalu seketika papa mengerem mobil si A nyusruk sampai bibirnya berdarah dan cek-cokpun dihentikan.
Aku benar-benar bingung saat itu, aku tidak pernah memikirkan tentang siapa orang yang aku suka. Aku bahkan belum pernah mengenal yang namanya suka sampai hari itu.

Paskibra Cilik

Aku tidak ingat kapan cerita ini berawal. Hmm… sepertinya sewaktu kami olah raga di lapangan belakang sekolah. Tiba-tiba hari itu lain, kami diajak untuk berbaris dengan rapi. Masing-masing kelas membiat barisannya. Aku tentu saja ikut kelompok anak-anak nol kecil. Inilah pertama kalinya aku belajar untuk jadi paskibra. Entah mengapa aku berada di paling depan sebelah kanan, sepertinya dulu aku kecil. Mungkin, ada teman-temanku lebih kecil y?!
”Hormaat gerak!”. Aku ingat sekali waktu itu aku menaruh tanganku ke atas kepala, jari-jariku yang kecil aku luruskan, dan ibu jariku aku tekuk. Setelah aku masuk paskibra di SMP aku baru tahu itu salah, seharusnya ibu jarinya tidak usah di tekuk. Lalu, kami belajar untuk lencang kanan. ”Lencang kanan gerak!”. Teman-teman yang berada di kiriku menengok ke arahku (jangan bayangkan barisan yang rapi dan anak-anak kecil yang kompak ya… terlalu aneh untuk anak kecil), aku yang berada paling kanan lalu berkata ”Lurus!”. Suatu tanggung jawab yang sangat menyenangkan untukku, walaupun hanya berkata ”lurus!”. Suaraku bisa terdengar ke seluruh penjuru lapangan. He…he…
Aku tidak ingat bagaimana aku diminta (pelupa sekali diriku ini?!). Namun, aku memukan sesuatu di kolong tempat tidurku. Foto aku ketika ikut lomba gerak jalan di dufan (ada yang ikut?). Aku sedang berbaris bersama teman-temanku memakai baju seragam olah raga yang mini, aku kan juga mini waktu itu. Tapi aku paling terlihat paling oke disana. Hahaha… Aku memakai sebuah tali berwarna merah yang ada priwitan (apa si bahasa benernya?) di lengan kananku. Aku seorang Danton! Itu loh, pemimpin barisan yang biasa bilang ”Siaap gerak!” atau ”Lencang kanan gerak!” atau ”Majuuuuu jalaaan!!!”, ada lagi yang lebih menyenangkan ”Priit…Priiit…Priiit!!” kutiup priwitanku untuk menarik perhatian orang-orang lewat (=p). Ternyata, salah satu hobi teriak-teriakku telah terlatih sejak aku TK, hebat! Hehe…
Kaki-kaki kecil kami yang telah mengelilingi dufan tak sia-sia. Kami juara harapan 1 loh. Senangnya. Alhamdulillah, ada yang bisa dibanggakan juga waktu aku TK. He…

Huwaaa…. Dasar Cengeng…

Ku buka buku rapotku waktu TK. Isinya tulisan semua, tidak ada angka-angka seperti SD, SMP, ataupun SMA. Disana ada penilaian tentang bagaimana kelakuanku di lingkungan TK. Pertama ku buka, aku langsung penasaran, ”waktu TK aku cengeng ga y?”
Ternyata iya! Aku ditulis sering menangis. Waah, aku tidak merasa. He… yang aku ingat, ketika itu ada anak perempuan di kelas. Ia agak gemuk, berambut ikal, dan berkulit putih. Ia selalu datang di temani ibunya. Suatu saat, ibunya pulang kerumah dan meninggalkan ia di kelas. Awalnya anak itu tidak sadar. Tak lama setelah ia sadar, ia menangis. Kami, teman sekelasnya, bersama ibu sulis terus menyemangatinya. ”Jangan nangis lagi, nanti ibu kamu dateng ko…” atau ”Berenti nangisnya, nanti jadi darah loh kalo air matanya udah abis”. Aku hanya sering terpaku dan bingung. ”Kenapa ia sebegitunya cuma karena di tinggal ibunya? Aku selalu ditinggal mama papa. Waktu aku bangun tidur, cuma ada Mba Ihat. Sekarangpun aku sendiri.” Namun, ia terus menangis sampai jam pelajaran berakhir dan ibunya datang menjemputnya.

Marahan!

Kehidupanku waktu TK ada konfliknya juga loh. Aku mempunyai teman yang bernama Putri, aku tidak ingat nama lengkapnya. Putri dan Putri sering sekali bermain bersama. Kami setiap berangkat dan pulang selalu naik jemputan. Lalu, ntah mengapa aku marahan dengan kakak kelasku yang aku panggil mbak May di jemputan. Lalu kami rebutan teman. Setiap anak yang naik jemputan kami rebuti, ”Jangan temenin putri” kata Mbak May. Aku pun tak mau kalah, aku dekati anak itu lalu aku dekati bisikan kata-kata hipnotis ke telinganya. ”Jangan temenin Mbak May, dia jahat” kataku. Tak lama mobil jemputan menuju rumah Putri, Mbak May langsung menghipnotis Putri untuk ikut marahan denganku. Putri tidak mau berbicara padaku. Sampai kelas aku langsung menangis di depan Ibu Sulis, mengadukan Putri yang tidak mau bicara kepadaku. Aku menangis sejadi-jadinya. Ibu Sulis meminta Putri untuk berbaikan kepadaku. Akhirnya kamipun berteman kembali. Waktu istirahat Ibu Sulis menemani aku ke Mbak May. Cerita ini berakhir indah berkat adanya ibu guruku.

Tiin…Tiin…

Setiap pagi aku di jemput oleh sebuah mobil kijang berwarna merah tua. Jemputan kami yang satu itu bukan mobil yang mahal. Kami tidak pernah merasakan nikmatnya AC dari mobil itu. Walaupun begitu, kami selalu bergembira. Loncat sana loncat sini. Teriak itu teriak ini. Senggol kanan senggol kiri. Tertawa haha tertawa hihi. Bapak supir, sampai sekarang aku tidak tahu namanya, selalu sabar menghadapai kami, anak-anak imut yang lucu-lucu. Kadang kalau aku tidak naik jemputan aku diboncengi mbak Ihat naik sepeda. Pernah suatu kali, Mbak Ihat belum bisa naik sepeda, aku naik ojek bersama mbak Ihat. Kami terjatuh, semenjak itu aku agak trauma naik motor dan tidak pernah mau naik motor sampai aku SD kelas enam.

Ayunan, Perosotan, Kolam Renang

Di TK Lestari ada kolam berenang yang cukup luas untuk sekitar 20 anak-anak kecil usia 4 sampai 6 tahun. Di tamannya 1 perosotan, 1 ayunan untuk 4 orang, 2 ayunan untuk 1 orang dan beberapa mainan yang tak kuketahui namanya, tapi aku masih ingat bagaimana rupanya. Kamu tahu? Mainan yang berbentuk tangga? Disana kamu bisa bergelantungan. Tangga itu terbuat dari besi berbentuk setengah lingkaran dan dulu waktu aku 4 tahun itu tinggi sekali. Aku tak dapat menjangkau besi yang paling tinggi. Aku hampir tidak pernah menyentuhnya, mungkin karena itu tubuhku tidak tinggi. Ada satu lagi, mainan yang berbentuk lingkaran. Sebuah tempat duduk yang bisa berputar. Dengan sebuah setir di tengahnya, kamu tidak dapat menjalankannya tapi itu untuk mengendalikan putaran ke kanan atau ke kiri. Aku suka sekali memainkan itu sampai aku pusing. Ingin sekali memainkan mainan-mainan itu lagi. Tetapi rasanya badanku terlalu besar untuk menaiki mainan-mainan itu.

Guruku

Nama guruku Ibu Sulis. Guruku ini kurus, rambutnya pendek dan ikal, gemulai saat menari, dan yang paling aku ingat adalah kerincingan yang selalu dibawanya saat kita semua berbaris dan bernyanyi sebelum masuk kelas. Bunyinya menyenangkan sekali. Ada satu lagi guru yang aku ingat, namanya Ibu Tati. Rambutnya lurus dan pendek. Tubuhnya tidak gemuk tapi lebih berisi dibanding Ibu Sulis. Ibu Tati tidak pernah mengajariku di kelas. Namun, kami sering bertemu saat bernyanyi sebelum masuk sekolah.

Kelas Nol Kecil

Bangku dan meja kelasku kecil dan berwarna-warni. Meja di kelasku terdiri dari beberapa meja persegi panjang yang disatukan. Kami selalu berhadap-hadapan saat belajar. Terdapat satu papan tulis kapur, kadang di terletak di belakangku kadang di depanku. Aku nomaden, aku duduk dimana saja aku suka. Tidak ada yang protes. Ada meja dan bangku untuk ibu guru juga, tentu saja kecil dan berwarna terang seperti pelangi.

TK Lestari

Aku pernah belajar di TK Lestari. Taman Kanak-kanak tersebut berada di komplek Depnaker, Bekasi Selatan. Bukan TK yang besar tapi menyenangkan. Lantainya berkeramik merah tua. Mempunyai tiga kelas untuk nol kecil satu kelas dan nol besar 2 kelas. Kelasku yang paling pojok. Kalau mau ke kelas, aku harus melewati pintu depan rumah sang kepala sekolah lalu sebuah lorong kecil yang ada pot-pot kecil berisi tanaman hijau yang segar. Walaupun kelasku yang paling kecil. Aku selalu bersemangat ke TK. Seingatku. Entahlah, aku masih empat tahun waktu belajar di taman kanak-kanak.